Star Party Meteor Shower

.

This is not for the full day school students ...

This is the full night observation for the great learners wherever you are ...

Learning is more than just schooling ...

.

Star Party - Meteor Shower

Hujan Meteor Perseid 2016
Intensitas 200 Meteor per jam

Hujan Meteor Perseid akan "meledak" Agustus 2016 ini. Intensitasnya yang biasanya hanya 80 meteor per jam kini akan naik hingga 200 meteor per jam (ZHR). Sehingga dipastikan bakal memberikan pertunjukan langit yang spektakuler. Berikut ulasan bagaimana dan kapan Anda dapat melihat Perseid.

Menurut ahli meteor NASA, Bill Cooke, Perseid mungkin adalah hujan meteor paling populer tahun ini. Mereka akan berada dalam "ledakan" pada tahun 2016, yang berarti akan muncul dua kali lipat lebih meriah daripada biasanya.

"Tahun ini, bukan hanya melihat sekitar 80 meteor Perseid per jam, intensitasnya bisa di atas 150 dan bahkan mendekati 200 meteor per jam," kata Cooke. Menurutnya, ini adalah "ledakan" Perseid pertama sejak tahun 2009.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Melihatnya?

Bumi akan melewati bekas jalur orbit Komet Swift-Tuttle dari 17 Juli sampai 24 Agustus tahun ini, dengan puncaknya adalah ketika Bumi melewati jalur orbit terpadat oleh debris atau puing-puing yang ditinggalkan komet tersebut, yakni pada 12 Agustus.

Meteor akan tampak berasal dari konstelasi Perseus, yang muncul di cakrawala sekitar pukul 22:00 waktu setempat. Namun, meteor akan paling banyak terlihat setelah tengah malam. Meteor-meteor Perseid bisa muncul dari segala penjuru langit, namun tentunya mereka akan selalu terlihat seperti melesat dari Perseus.

Hujan meteor Perseid bisa diamati di seluruh Indonesia, tapi yang Anda butuhkan untuk bisa melihat 200 meteor per jam adalah langit yang benar-benar gelap. Carilah lokasi yang gelap tersebut, dan pastikan ada tempat yang nyaman untuk tiduran bersantai sambil menatap langit dan sedikit kesabaran.

Apa Penyebab Munculnya Perseid?

Komet Swift-Tuttle adalah objek terbesar yang diketahui berulang kali melewati Bumi; diameter inti komet ini adalah sekitar 26 kilometer. Komet ini terakhir kali lewat di dekat Bumi dalam orbitnya mengelilingi Matahari adalah pada tahun 1992, dan yang berikutnya akan terjadi tahun 2126. Tapi komet ini sepertinya tidak akan mudah dilupakan, sebab Bumi melewati area debu dan puing-puing yang ditinggalkannya setiap tahun, menciptakan hujan meteor tahunan bernama Perseid.

Nantinya, ketika Anda melihat hujan meteor ini, Anda sebenarnya melihat potongan-potongan atau puing-puing komet yang terbakar saat mereka memasuki atmosfer Bumi sehingga disebut sebagai meteor. Meteor-meteor ini bergerak sangat cepat, yakni rata-rata 59 km per detik. Tapi tenang, sebagian besar meteor di Perseid berukuran terlalu kecil untuk dapat membahayakan pengamat di Bumi, ukurannya hanya sebesar butir pasir pantai sampai batu kerikil di rel kereta api. Mereka akan terbakar habis di atmosfer sebelum mencium permukaan Bumi.

Apa yang Dibutuhkan untuk Melihat Perseid?

Kunci untuk melihat hujan meteor adalah "pergi ke lokasi yang area pandangan langitnya sangat luas," kata Cooke. Pergilah ke daerah gelap, di pinggiran kota atau pedesaan, dan persiapkan diri dengan jaket (dan kopi hangat) untuk duduk atau rebahan di luar sambil menatap langit selama beberapa jam mulai tengah malam sampai menjelang Subuh. Dibutuhkan sekitar 30 menit untuk mata Anda menyesuaikan diri dengan kegelapan, dan semakin lama Anda menatap langit, semakin banyak meteor yang akan Anda lihat. Jika ada 150 meteor per jam, misalnya, berarti akan ada 2 sampai 3 meteor per menit, tidak "keroyokan" seperti hujan air.

Anda juga tidak butuh teleskop, binokular, dan sejenisnya untuk mengamati Perseid. Sebab gerakan meteor yang cepat—seperti yang dijelaskan di atas—akan sulit dilihat dengan benda-benda optik tersebut. Jadi, pengamatan dengan mata telanjang adalah yang paling disarankan bagi Anda.

Ada banyak juga pengamat langit yang berencana untuk berkemah agar bisa melihat hujan meteor Perseid, dan ada pula yang menyelenggarakan nonton bareng Perseid di berbagai kawasan pada 12–14 Agustus 2016.

Sumber : Info Astronomi
Tulisan dari : Wicak Amadeo

.

Komentar

Postingan Populer