Pentingnya Memanusiakan Manusia dalam Setiap Proses Penelitian Ilmiah
Rutinitas saya di Posyandu 7 pada 3 Februari 2025 lalu memberikan perspektif yang menyegarkan di tengah kesibukan saya sebagai pendidik dan penulis. Sebagai warga lansia yang menjadi sasaran program kesehatan, saya hadir untuk memantau kondisi fisik sebagaimana mestinya. Namun, peran saya hari ini bertambah. Saya berkesempatan menjadi responden bagi sekelompok mahasiswa STIKES Pemda Jombang yang sedang melakukan pengambilan data lapangan. Interaksi di pos layanan terpadu ini menarik perhatian saya, bukan karena teknis medisnya, melainkan karena pendekatan sosial yang mereka tunjukkan kepada kami, para orang tua.
Ada perubahan perilaku yang cukup signifikan dan menggembirakan dari cara mahasiswa ini memperlakukan respondennya. Mereka menunjukkan sikap yang "loman" atau dermawan. Tidak sekadar datang membawa lembar pertanyaan dan gawai untuk mencatat jawaban, mereka hadir dengan buah tangan berupa kue-kue untuk para responden. Tindakan ini mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki makna simbolis yang dalam. Mereka tidak menempatkan responden sebagai objek pasif yang bisa dieksploitasi datanya begitu saja, melainkan sebagai mitra yang harus dihormati kenyamanannya.
Sikap mahasiswa STIKES ini mengingatkan saya pada standar etika yang diterapkan oleh peneliti internasional. Saya teringat ketika wali murid di sekolah Bestari menjadi responden bagi mahasiswa program doktoral dari sebuah universitas di Australia. Standar penghargaan yang diberikan sangat tinggi. Peneliti tersebut mentransfer dana sebesar Rp3,5 juta kepada saya untuk didistribusikan kepada wali murid yang telah meluangkan waktu menjadi responden risetnya. Meskipun nominal antara mahasiswa S1 lokal dan mahasiswa S3 luar negeri tentu tidak bisa disamakan, esensi dari tindakan mereka adalah satu napas yaitu penghargaan terhadap martabat manusia.
Perilaku santun ini sebenarnya bukan sekadar kebaikan hati, melainkan kewajiban etis yang diatur secara resmi. Dalam ranah akademik di Indonesia, hal ini sejalan dengan Pedoman dan Standar Etik Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nasional yang diterbitkan oleh KEPPKN (Komite Etik Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nasional) di bawah Kementerian Kesehatan. Dokumen negara ini secara tegas menjabarkan tiga prinsip utama etik, salah satunya adalah prinsip Justice atau Keadilan. Prinsip ini menekankan bahwa beban dan manfaat penelitian harus didistribusikan secara adil.
Ketika seorang responden meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menjawab pertanyaan peneliti, sesungguhnya ia sedang menanggung beban partisipasi. Jika peneliti datang, mengambil data, lalu pergi tanpa memberikan apa pun, maka terjadi ketidakadilan. Peneliti mendapatkan manfaat berupa data untuk kelulusan atau publikasi, sementara responden hanya kehilangan waktu. Oleh karena itu, pedoman KEPPKN memperbolehkan bahkan menyarankan adanya kompensasi yang wajar, bisa berupa uang transportasi, suvenir, atau makanan sebagai bentuk penggantian atas ketidaknyamanan dan waktu yang hilang. Jadi, apa yang dilakukan mahasiswa STIKES Jombang itu adalah implementasi nyata dari prinsip keadilan tersebut.
Sangat kontras jika kita membandingkannya dengan tren penelitian "malas" yang marak terjadi belakangan ini. Kita sering menemui peneliti yang menyebarkan tautan Google Form secara acak di grup-grup WhatsApp tanpa etika yang memadai. Mereka meminta bantuan pengisian data dengan kalimat pengantar standar, lalu menutupnya dengan ucapan terima kasih yang bersifat salinan baku (template). Pola hubungan ini sangat transaksional, dingin, dan berjarak. Peneliti seolah lupa bahwa di balik layar gawai tersebut ada manusia yang memiliki kesibukan. Model penelitian "hit and run" seperti ini sering kali mengabaikan prinsip Respect for Persons (menghormati harkat dan martabat manusia), karena mereduksi manusia hanya menjadi penyumbang angka statistik semata.
Dari kacamata pendidikan karakter, fenomena mahasiswa STIKES yang membawa kue dan menyapa lansia dengan santun ini adalah indikator keberhasilan yang patut kita rayakan. Ini membuktikan bahwa pendidikan kita masih mampu mencetak manusia yang beradab, bukan hanya robot pemikir. Mahasiswa ini sadar bahwa data yang berkualitas lahir dari hubungan yang saling percaya. Ketika responden merasa dihargai dan "dimanusiakan", mereka cenderung memberikan jawaban yang jujur dan terbuka. Sebaliknya, responden yang merasa hanya dimanfaatkan akan menjawab seadanya, yang pada akhirnya justru merugikan validitas penelitian itu sendiri.
Sebagai guru, saya melihat ada pelajaran moral yang kuat di sini untuk kita semua, baik sebagai akademisi maupun sebagai anggota masyarakat. Kita harus belajar menghargai orang yang memiliki peran dalam kepentingan kita. Sekecil apa pun peran orang lain dalam membantu pencapaian tujuan kita, mereka layak mendapatkan apresiasi yang tulus. Jangan sampai kemudahan teknologi membuat kita kehilangan sentuhan kemanusiaan. Mentransfer data memang bisa dilakukan dalam hitungan detik, tetapi membangun rasa hormat membutuhkan pertemuan hati dan sikap yang nyata.
Semoga apa yang ditunjukkan oleh adik-adik mahasiswa di Posyandu 7 ini menjadi standar baru dalam budaya riset dan interaksi sosial kita. Bahwa menjadi peneliti atau kaum terdidik bukan berarti boleh bersikap arogan terhadap mereka yang kita teliti. Justru, semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin tinggi pula rasa hormatnya kepada orang lain. Mari kita tinggalkan budaya meminta bantuan tanpa timbal balik yang pantas, dan mulailah membiasakan diri untuk selalu "loman" dalam menghargai jerih payah sesama.





Komentar
Posting Komentar