Meskipun Belajar Berpuasa, Anak Tetap Diajarkan Niat Berpuasa

(Inspirasi Mendidik Anak selama Ramadan, bagian 1)


Bulan Ramadan itu istimewa. Di dalamnya ada malam Lailatul Qadar yang dinilai sebagai malam seribu bulan. Aktivitas apa saja bernilai ibadah. Allah SWT mengistimewakan, pemerintah di negeri ini juga mengistimewakan, salah satu tandanya, saat Ramadan jam kerja dan jam sekolah lebih singkat dari hari-hari biasa.

Masa belajar yang lebih pendek dari hari-hari sebelumnya inilah momen mengajak anak-anak kita berpuasa. Puasa Zuhur, puasa Asar, baru kemudian puasa sesuai syariat yaitu berbuka di waktu magrib. Bisa juga melaksanakan puasa sambung. Puasa sambung itu, setelah berbuka di waktu zuhur, puasa dilanjutkan lagi hingga waktu asar, waktu asar berbuka lagi, dilanjutkan buka puasa di waktu magrib.

Saat anak melaksanakan puasa, diajarkan pula niat berpuasa. Jika mereka ikut salat tarawih di masjid atau musala, melafalkan niat berpuasa biasanya diucapkan setelah salat witir. Meskipun demikian, anak-anak tetap kita ajarkan niat berpuasa. Siapa tahu saat melafalkan puasa anak-anak masih belum tahu kalau lafal nawaitu sauma ghadin an ada'i fardu syahri ramadana hadhihissanati fardlu lillahi ta'ala adalah lafal niat berpuasa. Atau saat imam mengucapkan lafal niat ini, anak-anak tidak fokus, misalnya bergurau dengan temannya (pengalaman pernah jadi anak, hehe).

"Adik sudah berniat puasa?" Kita bisa memulai dengan bertanya demikian.

"Niat puasa itu apa sih, Bunda?" Mungkin anak kita menanggapi demikian. "Nawaitu sauma ghadin an ada'i fardu syahri ramadana hadhihissanati fardlu lillahi ta'ala". Kita tunjukkan lafalnya. Kita tak perlu dulu memberi tahu definisi niat puasa. Di sekolahnya selama pondok Ramadan biasanya sudah diberikan pengetahuan tentang puasa. Orang tua bagian pengetahuan agama yang aplikatif.

"Oh sudah, tadi di masjid juga sudah membaca itu, lalu salim-salim dan pulang". Bisa jadi mereka jawab seperti itu.

Selain diucapkan, niat itu juga harus dikatakan dalam hati dan tidak harus menggunakan bahasa Arab. Niat itu tempatnya di hati. Orang tua bisa mendikte. Contohnya

"Ikuti kata-kata Bunda, tapi, Adik bicaranya dalam hati. 'Aku niat berpuasa untuk besok di bulan Ramadan tahun ini, wajib karena Allah'..". Mendikte ini kata yang tepat menuntun melafalkan niat ya. Tentu saja, tidak menjadi tugas ibu saja, ayah juga boleh. Anak dipastikan sudah melaksanakan niat berpuasa.

 Konsep belajar puasa ini bukan drama, atau sedang bermain peran. Anak-anak kita ajak serius beribadah dalam frame belajar berpuasa. Jadi, hal-hal yang sudah mampu mereka kerjakan, langsung kita ajak mengaplikasikannya. Salah satunya adalah niat berpuasa Ramadan.

O ya, pada puasa sunnah, orang tua  perlu mengingatkan juga. Niat adalah rukun puasa yang pertama dilanjutkan rukun puasa kedua yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa. Untuk detailnya apa-apa yang membatalkan puasa akan dijelaskan pada pasal sesuatu yang membatalkan puasa. فَاْلئَنَ باَشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ اْلخَيْطُ اْلاَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلاَسْوَدِ مِنَ اْلفَجْرِ ثُمَّ اَتِّمُوْا الصِّيَامَ اِلَى اللَّيْلِ “…maka sekarang campurilah, dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu, serta makan dan minumlah sampai waktu fajar tiba dengan dapat membedakan antara benang putih dan hitam. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai waktu malam tiba...(QS. al-Baqarah, 2: 187) Mengutip dari  https://islam.nu.or.id/ramadhan/syarat-wajib-dan-rukun-puasa-ramadhan-EoZoJ

Apakah orang tua perlu mengajarkan pula kapan niat dilaksanakan? Jawabannya "Iya". Ada perbedaan waktu niat puasa wajib (puasa Ramadan) dengan puasa sunah.  Puasa wajib niatnya diucapkan secara lisan dan di dalam hati dimulai sejak masuk waktu magrib dan berakhir di waktu sebelum subuh, lazimnya di Indonesia ditetapkan saat imsak tiba. Momen bisa mengambil waktu saat buka bersama atau usai salat Magrib berjamaah di rumah.

"Sekarang sudah boleh niat berpuasa lho, Dik." Misalnya begitu. 

Kalau berpuasa sunah, niat tidak harus dilaksanakan pada malam hari, boleh niat puasa sunah pagi harinya. Misalnya, karena tidak ada makanan di rumah, sejak subuh belum melaksanakan hal-hal yang membatalkan puasa, ketepatan hari Senin, Kamis atau yaumil baith (hari disunakan berpuasa pada pertengahan bulan, yang dilaksanakan tiap bulan yaitu tanggal 13, 14, dan 15 Hijriyah).

Penjelasan hal yang membatalkan puasa akan dibahas tersendiri. Insyaallah 

Mengajarkan niat berpuasa kepada anak dilaksanakan tiap hari. Tujuannya agar mereka tahu bahwa tiap melaksanakan puasa niat puasa harus dilaksanakan, tidak boleh dirapel. 

Jika ingin mengenalkan berniat puasa sebulan selama Ramadan, itu pun harus diberikan sehari sebelum 1 Ramadan. Ada alasan dan caranya. Alasannya yaitu untuk berjaga-jaga kalau ada hari yang terlupakan melafalkan niat puasa. Niat puasa yang dirapel satu bulan Ramadan ini juga dilaksanakan di malam jelang 1 Ramadan, sebelum puasa hari 1 dilaksanakan. Orang tua juga harus menuntun untuk melafalkan niatnya, baik secara lisan maupun di dalam hati.

Mari kita mengajarkan ibadah kepada anak-anak kita dengan benar dan tepat.

1 Ramadan 1443 H








Komentar

Postingan Populer